perkembangan peserta didik

PAHAMI ANAK APA ADANYA

Tidak dapat disangsikan lagi, bahwa setiap manusia dilahirkan dari ibunya sejak dahulu kala hingga sekarang selalu membutuhkan bantuan dan pertolongan dari orang tua atau orang lain dalam berbagai hal. Berbagai bantuan dan pertolongan tersebut secara tidak langsung adanya upaya dari orang tua maupun lainnya (pendidik) untuk mendidik anak-anaknya, meskipun masih dengan cara sederhana.

Berbagai hal yang mempengaruhi anak, baik secara langsung atau tidak langsung dan dilakukan secara sadar maupun tidak sadar merupakan sebuah proses pendidikan. Hal inilah yang melatarbelakangi mengapa anak membutuhkan suatu pemahaman untuk kelangsungan pendidikannya. Kita sebagai pendidik ataupun lembaga pendidikan harus sadar dan tanggap dari perilaku anak atau anak didik itu sendiri.

Setiap individu dewasa, mempunyai segi kemampuan berfikir lebih rasional dibandingkan dengan segi kemampuan berfikir pada anak-anak. Hal ini yang menjadikan mengapa seorang anak membutuhkan pemahaman dari orang yang lebih mengerti dari pemikiran anak tersebut (Noor Yusma). Ini bukan dikarenakan ukuran otak mereka yang masih kecil, namun sifat dan cara kerja perkembangan otak mereka saja yang masih muda dan kurang input dari pengalaman dan apa yang telah dikerjakan oleh anak itu sendiri. Dalam hal ini kewajiban dari seorang pendidik adalah bertanggung jawab dalam melaksanakan tugas dan amanah yang harus diperbuat sesuai dengan keberadaan anak itu sendiri. Satu hal yang harus diperhatikan oleh para pendidik adalah memahami beragamnya kemampuan, watak, bakat dan latar belakang anak didik apa adanya , sehingga para pendidik termasuk orang tua dapat menempatkan dan memperlakukan anak pada tempat yang berbeda

Untuk itu ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh pendidik termasuk orang tua terkait dengan anak atau anak didik, antara lain :

  1. Anak dan potensinya

Anak juga dapat diartikan sebagai manusia yang sepanjang hayatnya selalu dalam pertumbuhan dan perkembangannya. Sehubungan dengan itu, maka anak bukan hanya dalam pengasuhan dan pengasihan orang tuanya, bukan pula hanya pada usia sekolah, akan tetapi lebih dari itu. Yaitu sebagai manusia sempurna yang utuh, dengan tetap berusaha terus menerus hingga akhir hayatnya. Oleh karena itu, siapapun dan dimanapun berada dalam masa pertumbuhan dan perkembangan sejak lahir hingga sampai hayatnya, baik dalam pengasuhan orang tuanya maupun orang lain termasuk anak-anak.

Anak juga merupakan makhluk yang sedang tumbuh dan berkembang, baik secara fisik maupun psikologis untuk mencapai tujuan pendidikannya. Pengertian ini memberi arti bahwa anak merupakan anak yang belum dewasa dan memerlukan bantuan orang lain agar menjadi dewasa. Dengan demikian salah satu prinsip paling penting dalam memahami seorang anak adalah anak merupakan individu yang selalu tumbuh dan berkembang, sesuai dengan iramanya masing-masing dan harus diselidiki apa saja yang muncul pada diri anak tersebut

Agar proses dalam pembelajaran pada seorang anak dapat berjalan dengan efektif, maka pendidik hendaknya memiliki pengetahuan tentang anak tersebut dengan segala potensi yang dimilikinya. Sedangkan potensi yang dimiliki oleh setiap manusia termasuk seorang anak adalah :

a). Bakat dan kecerdasan, keduanya merupakan kemampuan pembaawaan yang potansial untuk mengacu pada perkembangan kemampuan akademis dan keahlian dalam berbagai bidang kehidupan. Secara tidak langsung, bakat berpangkal pada kemampuan kognisi, konasi (kehendak) dan emosi

b). Insting ( naluri ) merupakan suatu kemampuan berbuat tanpa melalui proses pembelajaran. Juga merupakan kapabilitas yang mempunyai jenis-jenis melarikan diri karena takut, menoleh karena jijik, ingin tahu karena menakjubkan sesuatu, melawan karena marah, merendahkan diri, berkelamin karena ingin mengadakan reproduksi, berkumpul, mencari sesuatu, dan menarik perhatian orang lain karena ingin diperhatikan orang lain.

c). Nafsu dan berbagai dorongan meliputi nafsu yang mendorong kea rah perbuatan tercela dan merendahkan orang lain, nafsu yang mendorong kea rah perbuatan yang merusak, membunuh atau memusuhi orang lain, nafsu yang mengarah pada perbuatan seksual demi memuaskan tuntutan pemuasan hidup kelamin, dan nafsu yang mendorong ke arah ketaatan kepaha Allah Yang Maha Segala-galanya.

d). Karakter ( watak asli ) atau tabiat manusia merupakan kemampuan psikologis yang terbawa sejak lahir, dan selalu terkait dengan tingkah laku, moral, social dan etika seseorang.

e). Hereditas atau keturunan merupakan factor menerima kemampuan dasar dari kedua orang tua sampai pada keturunan urutan yang lebih atas yang mengandung unsure psikologis dan filosofi.

f). Intuisi merupakan kemampuan psikologis seseorang untuk memperoleh ilham dari Tuhan

  1. Hakikat seorang anak

Disadari atau tidak oleh setiap manusia, manakala membicarakan tentang hakikat atau keberadaan seorang anak, maka tidak lepas dengan membicarakan hakikat manusia sebagai makhluk Tuhan, makhluk social dan pribadi, makhluk sedang berkembang, makhluk yang harus dididik dan selanjutnya dapat dididik dan lain sebagainya.

Dalam mendidik anak, maka segala usaha ditujukan terhadap perkembangan anaknya. Seperti seorang ibu selalu menyiapkan makanan dan minuman untuk anggota keluarganya, agar mereka dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Begitu juga seorang ayah yang bekerja mencari nafkah untuk menghidupi keluarganya. Dengan demikian apa yang dikerjakan oleh kedua orang tuanya secara tidak langsung membantu pertumbuhan anaknya. Akan tetapi pada kenyataannya, perkembangan anak tidak selalu cocok dengan apa yang diharapkan oleh orang tuanya. Misalnya anak-anaknya sejak kecil sudah memperoleh kesempatan sekolah sampai dapat menyelesaikan ke jenjang yang lebih tinggi, akan tetapi setelah menyelesaikan pendidikan formalnya dia belum memperoleh pekerjaan sesuai dengan harapan.

Bertolak dari fenomena tersebut, maka kunci pokoknya adalah kurang persiapan anak dalam menghadapi persoalan-persoalan hidup. Oleh karena itu, kemmapuan menghadapi dan mengatasi persoalan hidup harus dikenalkan dan ditanamkan sejak dini, sehingga anak peka terhadap persoalan tersebut, yang selanjutnya memiliki kepedulian. Hal ini tentunya dimulai dalam lingkungan rumah tangganya dengan cara memperhatikan dan melibatkan anak pada berbagai kejadian atau permasalahan dalam rumah tangga maupun masyarakat sekitar. Juga mengerjakan pekerjaan yang dapat memberikan pengalaman dalam menghadapi persoalan hidup kelak, sesuai dengan kapasitas kemampuannya. Dengan kata lain, anak-anak sekarang harus dipersiapkan secara khusus dalam mengahdapi kehidupan setelah dewasa.

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa betapa pentingnya orang tua maupun anggota keluarga yang lain ( pendidik ) memberikan bimbingan terhadap anak-anaknya dalam keluarga akan hidup dan kehidupan, baik sedang dialami kelak akan dihadapi. Dengan demikian, peran orang tua, anggota keluarga, pendidik / guru dan anggota masyarakat sangat besar terhadap pembentukan pengetahuan, wawasan, ketrampilan, sikap dan kepribadian anan didik.

Oleh karena itu disarankan kepada para pendidik baik itu orang tua atau guru agar lebih mengerti tentang karakteristik dan sifat yang ada pada diri seorang anak atau anak didik tanpa menambah beban kepada mereka berupa pemikiran yang masih jauh dengan kondisi usianya dan psikologisnya.

Referensi

Hasbullah.1996. Dasar-dasar Ilmu Pendidikan.Jakarta: PT Rajagrafindo Persada

Romlah, M.Ag, Dra.2004.Psikologi Pendidikan.Malang:UMM Press

educatetolearn.com ( tanggal 31 Maret 2008 / 05:23 am )

1 Comment »

  1. hendy Said:

    mumpung ada nama peng-komentar,,,


{ RSS feed for comments on this post}

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: