Strategi Pembelajaran

Novia Dwi Anggraini

Matkom/ Kelas IV A

UAS Mata Kuliah Strategi Pembelajaran

  1. Belajar tuntas adalah proses belajar mengajar dengan tujuan agar bahan ajaran dikuasai secara tuntas. Dengan artian bahwa materi-materi yang diberikan telah dikuasai sepenuhnya oleh siswa Salah satu cirinya yaitu memperhatikan perbedaan individu terutama dalam hal kemampuan dan kecepatan belajarnya.

Dalam pelaksanaan belajar tuntas, ada beberapa kendala yang dialami oleh seorang guru. Seorang guru harus benar-benar tahu kemampuan masing-masing dari anak didiknya sehingga dalam proses pembelajaran, guru mengetahui apa yang harus dilakukan untuk menghadapi anak yang pintar, yang sedang-sedang saja, maupun anak yang kemampuannya di bawah rata-rata. Misalnya dengan anak yang di bawah rata-rata guru harus berusaha agar anak tersebut dapat mengikuti pelajaran sehingga nantinya tujuan ketuntasan dapat tercapai. Hendaknya seorang guru harus benar-benar memahami apa saja variabel-variabel belajar tuntas. Variabel-variabel belajar tuntas antara lain:
a. Bakat siswa

Guru hendaknya mengetahui bakat terbesar yang dipunyai siswa agar siswa bisa langsung diarahkan dgn tepat sehingga nantinya ada korelasi antara bakat dgn hasil belajar

b. Ketekunan belajar

Guru harus bisa mendorong siswanya agar mempunyai motivasi untuk belajar.misalnya saja dengan diadakanya pretest shg mau tidak mau siswa harus belajar

c. Kualitas pembelajaran

Kualitas pembelajaran ditentukan oleh kualitas penyajian, penjelasan, dan pengaturan unsure-unsur tugas belajar. Jadi berkualitas atau tidaknya suatu pembelajaran ada di tangan guru

d.Kesempatan yang tersedia

Kesempatan yang tersedia untuk belajar dalam memahami mata pelajaran, bidang studi, atau pokok bahasan yang berbeda-beda sesuai dengan tingkat kesilitannya, dan dalam hal ini guru harus benar-benar paham.

Dengan memperhatikan perbedaan individu terutama dalam hal kemampuan dan kecepatan belajar, seorang guru dapat mengetahuinya dengan memberikan soal-soal kepada siswanya baik berupa soal ulangan ataupun soal latihan. Tentunya dengan adanya batasan waktu untuk mengerjakannya.Dengan begitu, guru dapat mengetahui seberapakah kemampuan dan kecepatan siswanya dalam menyelesaikan soal-soal yang diberikan. Setelah itu, guru menilai dan mengevaluasi hasil pekerjaan siswanya. Dari kegiatan tersebut guru dapat memahami kemampuan siswa dalam memecahkan persoalan dan dapat memilah siswa mana yang sudah memahami materi serta siswa mana yang belum.

  1. Pembelajaran Kooperatif

Adalah model pembelajaran yang menggunakan kelompok kecil, setiap siswa yang ada dalam kelompok mempunyai tingkat kemampuan yang berbeda-beda, menggunakan kegiatan belajar yang bervariasi untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap topik/materi pelajaran yang diajarkan. Setiap anggota kelompok bertanggung jawab untuk mempelajari materi yang sedang diajarkan, tetapi juga bertanggung jawab untuk membantu anggota kelompok untuk belajar, dengan demikian perlu diciptakan atmosfir keberhasilan.

Pada model pembelajaran kooperatif setiap anggota kelompok satu sama lain saling tergantung yaitu setiap siswa bergantung pada siswa lain dalam pencapaian tujuan pembelajaran, dan semuanya mempunyai tanggung jawab terhadap keberhasilan anggota dan dirinya sendiri. Seluruh siswa pada kegiatan belajar ini harus berpartisipasi aktif, perbedaan individual antara siswa dapat diminimalkan pada saat mereka mempelajari materi dan dengan adanya keterampilan sosial.

Model pembelajaran kooperatif bertumpu pada kerja kelompok kecil, berlawanan dengan pembelajaran klasikal (satu kelas penuh), dan terdiri enam tahapan pokok yaitu menentukan tujuan dan pengaturan, memberi informasi kepada siswa melalui presentasi atau teks, menyusun siswa dalam kelompok belajar, menentukan kelompok dan membantu kelompok belajar, menguji atau melakukan tes untuk mengetahui keberhasilan dari tugas-tugas kelompok, penghargaan baik terhadap prestasi individu maupun kelompok.

Contoh :

Misal diambil pembelajaran matematika tingkat SLTA tentang materi Statistika.

Rancangan pembelajaran dan pembelajaran kooperatif yan dilakukan:

  • Siswa belajar secara berkelompok, satu kelompok terdiri dari 5 siswa

  • Siswa bekerja dalam kelompok secara kooperatif untuk menuntaskan materi tentang statistika

  • Dalam kelompok tersebut dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang dan rendah.

  • Guru mendatangi setiap kelompok dengan memberikan informasi tentang subbab statistika sehingga dalam satu kelompok tersebut mengetahui tentang materi-materi statistika.

  • Guru mengembangkan prosedur yang lebih tepat untuk membantu siswa bekerja dalam kelompok. Namun di dalam satu kelompok, pasti banyak pertanyaan dan pendapat yang bervariasi dari masing-masing siswa, dan di sinilah peran guru sebagai penanggungjawab jalannya diskusi serta mengatur alurnya agar tercipta pembelajaran yang kooperatif.

  1. Metode Jigsaw

Pada pendekatan Jigsaw, siswa dibagi dalam kelompok yang terdiri dari 5 – 6 orang anggota kelompok yang mempunyai kemampuan heterogen. Setiap anggota kelompok bertanggung jawab untuk mempelajari materi yang spesifik. Materi pembelajaran diberikan dalam bentuk teks. Setiap anggota kelompok bertanggung jawab untuk mempelajari materi pelajaran yang diberikan guru. Anggota kelompok yang mendapat tugas yang sama berkumpul untuk mendiskusikan materi yang diberikan guru. Anggota kelompok itu disebut kelompok ahli. Selanjutnya masing-masing anggota kelompok kembali ke kelompok asal dan menjelaskan apa yang telah dipelajari dari kelompok ahli. Untuk mengevaluasi hasil diskusi kelompok tersebut, guru memberikan kuis individu sesuai materi yang diajarkan. Dalam pendekatan Jigsaw setiap anggota bertanggung jawab untuk mempelajari materi dan bertugas menjelaskan kepada teman kelompoknya yang sama.

Rancangan pembelajaran Jigsaw di tingkat SLTP :

Misal diambil pembelajaran matematika Persamaan Kuadrat

  • Membentuk kelompok kecil yang heterogen yang anggotanya terdiri dari 4 atau 5 orang siswa.

  • Guru menyampaikan kompetensi yang diharapkan dimiliki siswa baik yang terdiri dari standar kompetensi, kompetensi dasar dan indikator pencapaiannya serta meningkatkan motivasi belajar siswa.

  • Guru menyampaikan materi persamaan kuadrat yang terdiri dari cara mencari variabel dengan jalan penfaktoran, kuadrat sempurna, dan dengan menggunakan rumus.

  • Tiap cara pencarian variabel diberikan kepada setiap siswa atau kelompoknya tapi ada yang sama di kelompok lain.

  • Siswa dari kelompok yang berbeda yang telah mempelajari berbagai cara pencarian variabel dengan cara yang sama dikumpulkan dalam kelompok baru yang disebut kelompok ahli untuk mendiskusikan materi yang ditugaskan kepada mereka.

  • Setelah selesai berdiskusi siswa yang tergabung dalam tim ahli kembali ke kelompok asalnya masing-masing dan secara bergantian mengajari siswa lain yang ada dalam satu kelompok tentang materi yang sudah dikuasainya dan siswa lain dalam kelompoknya memperhatikan dengan sungguh-sungguh.

  • Setiap siswa yang ada dalam tim ahli mempresentasikan hasil diskusi dalam kelompoknya.

  • Untuk mengevaluasi hasil diskusi kelompok tersebut, guru memberi kuis kepada seluruh siswa tentang cara mencari variabel dengan tiga jalan tersebut. Pada saat menjawab kuis siswa tidak saling membantu.

  • Pada akhir kegiatan guru meminta siswa untuk menyimpulkan hasil pembelajarannya

  1. Metode Inquiry

Metode inquiry merupakan metode pembelajaran yang berupaya menanamkan dasar-dasar berfikir ilmiah pada diri siswa, sehingga dalam proses pembelajaran ini siswa lebih banyak belajar sendiri, mengembangkan kreativitas dalam memecahkan masalah. Siswa benar-benar ditempatkan sebagai subjek yang belajar. Peranan guru dalam pembelajaran dengan metode inquiry adalah sebagai pembimbing dan fasilitator.

Contoh diambil kegiatan mengarang di tingkat SD:

Pertama guru memberikan tema atau topik tentang Lingkungan. Lalu guru memberikan kerangka karangan tentang macam-macam lingkungan, yaitu lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat, yang akan dijabarkan menjadi beberapa kalimat-kalimat. Setelah itu siswa mulai membuat karangan sesuai dengan pengetahuan dan daya pemikirannya. Guru hanya sebagai media siswa untuk membantu jalannya siswa mengarang. Misal guru sebagai tempat bertanya murid untuk kata-kata yang tidak diketahui atau arti kata-kata asing yang jarang ditemukan di kehidupan sehari-hari. Atau kadang-kadang, guru bisa membantu siswa melanjutkan membuat kalimat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: